Leading Indicators dalam HSE adalah ukuran kinerja yang bersifat proaktif dan forward-looking—mengukur aktivitas dan kondisi yang mempengaruhi keselamatan sebelum insiden terjadi, seperti: jumlah inspeksi K3 yang dilakukan, persentase completion pelatihan K3, jumlah near miss yang dilaporkan, persentase closure rekomendasi audit tepat waktu, dan frekuensi pelaksanaan toolbox meeting. Lagging Indicators adalah ukuran retrospektif yang mencatat insiden yang sudah terjadi, seperti LTIFR, TRIFR, Severity Rate, dan jumlah fatality—penting untuk mengidentifikasi tren namun tidak memberikan informasi pencegahan yang proaktif.
Organisasi HSE yang matang menggunakan kombinasi leading dan lagging indicators secara seimbang—lagging indicators untuk mengevaluasi outcome keselamatan dan mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan, sementara leading indicators untuk memantau kesehatan sistem pencegahan yang seharusnya mencegah insiden tersebut terjadi. Kesalahan yang sering terjadi dalam program HSE pertambangan adalah overemphasis pada lagging indicators—terutama LTIFR—sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan, yang mendorong budaya under-reporting insiden untuk mempertahankan angka statistik yang terlihat baik. Konsultan yang membantu perusahaan tambang merancang sistem KPI HSE harus memastikan setidaknya 50–60% dari KPI yang dilaporkan kepada manajemen puncak adalah leading indicators yang benar-benar mencerminkan aktivitas pencegahan, bukan hanya statistik kecelakaan yang sudah terjadi.